![[DITP] Logo-01.png](https://static.wixstatic.com/media/841b6c_35b587aec7484b7cb57d775b50960226~mv2.png/v1/fill/w_152,h_56,al_c,q_85,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/%5BDITP%5D%20Logo-01.png)
OUT OF MY SKIN
Friday, 7 August 2026
19.30 - 20.45
Teater Kecil
Jean-Baptiste Phou (Cambodia)
Rating: 17+
Mengapa seseorang harus menerima berada dalam satu kotak, tetapi pada saat yang sama diasingkan dari kotak yang lain? Dan apa artinya memeluk tanah air bagi mereka yang hidup dalam perpindahan yang terus-menerus?
Out of My Skin karya Jean-Baptiste Phou merupakan alih wahana dari karya literatur yang mengolah sejarah personal sebagai material untuk membuka lanskap-lanskap lain di luar identitas yang diwariskan atau dilekatkan kepadanya. Dalam pengembangannya ke medium pertunjukan bersama Sasapin Siriwanij, karya ini tidak sekadar menggeser teks ke atas panggung, tetapi juga menggeser posisi penonton: dari mereka yang menyaksikan menjadi tubuh-tubuh lain yang turut berjalan di dalam lanskap alternatif yang dibangunnya.
Persoalan identitas dihadirkan melampaui ukuran-ukuran yang normatif—kebangsaan, bahasa, atau ciri-ciri fisiologis. Yang dipertanyakan justru adalah lapisan-lapisan yang tak kasatmata: kecairan hasrat, ingatan, afeksi, dan kemungkinan untuk membangun rasa memiliki terhadap tanah air yang terus berubah mengikuti setiap jejak perpindahan.
Dalam percakapan tentang pencitraan yang niskala, khususnya di Jakarta—sebuah kota yang dapat dibayangkan sebagai sepiring gado-gado dengan keberagaman yang terus bernegosiasi—Out of My Skin menawarkan cara lain untuk meracik perbedaan. Di tengah ketegangan horizontal yang kerap diproduksi untuk mengukuhkan batas-batas identitas, ia mengajak kita menggambar ulang batas-batas tersebut untuk memberi kesempatan pada bentuk-bentuk kebersamaan yang lebih cair dan imajinatif.
What does it mean to be identified to one category while remaining excluded from another? And what might a homeland mean for those whose lives are shaped by continual movement?
Out of My Skin by Jean-Baptiste Phou begins from these questions. Adapted from his literary work, it draws upon personal history not as autobiography, but as a means of opening landscapes beyond the identities inherited or imposed upon the self. Developed for the stage in collaboration with Sasapin Siriwanij, the work is not simply a translation from page to performance. It repositions the audience itself—from detached observers into fellow travellers navigating the alternative landscapes the performance constructs.
Here, identity exceeds the familiar coordinates of nationality, language, and physical appearance. Instead, the work attends to its less visible dimensions: the fluidity of desire, memory, and affect, and the ways belonging is continually negotiated through movement rather than secured by origin. Home emerges not as a fixed territory but as something composed through lived trajectories, shifting with every crossing and encounter.
Within the curatorial proposition of Unseen (the) Map, and particularly in relation to Jakarta—a city whose social fabric is continuously assembled through difference—Out of My Skin offers another way of imagining coexistence. Rather than accepting identity as a stable boundary, it asks how those boundaries might be redrawn to make room for more fluid, relational, and imaginative forms of being together. At a moment when horizontal tensions are increasingly mobilised to harden social divisions, the work insists on difference not as a site of separation, but as the very condition through which new forms of collectivity may be imagined.

