top of page
patterns-10.png

kurator/curators

Rebecca Kezia.jpeg

Rebecca Kezia adalah kurator dan manajer program seni yang berkarya di bidang teater dan seni pertunjukan lintas disiplin. Ia merupakan lulusan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, dan aktif terlibat dalam proses kuratorial, produksi, serta pengembangan program di ekosistem seni pertunjukan kontemporer Jakarta.

Rebecca Kezia is a curator and arts program manager working across theatre and interdisciplinary performance. She graduated from the Faculty of Humanities at the University of Indonesia and has been actively involved in curatorial processes, production, and program development within Jakarta’s contemporary performing arts ecosystem.

Fathun Karib adalah dosen, peneliti, sekaligus vokalis yang praktiknya melintasi kajian sosiologi, ekonomi politik, dan sejarah lingkungan di Asia Tenggara. Saat ini ia menjabat sebagai Postdoctoral Fellow dalam Global Indo-Pacific Project, sebuah kolaborasi antara National University of Singapore dan German Institute for Japanese Studies (DIJ) di Tokyo. Fathun meraih gelar M.A. dalam Kajian Asia Tenggara dari Universität Passau, serta gelar M.A. dan Ph.D. dalam bidang Sosiologi dari Binghamton University. Di luar dunia akademik, ia juga merupakan vokalis band hardcore punk bawah tanah Cryptical Death.

Fathun Karib is a lecturer, researcher, and vocalist whose work spans sociology, political economy, and environmental history in Southeast Asia. He is currently a Postdoctoral Fellow in the Global Indo-Pacific Project, a collaboration between the National University of Singapore and the German Institute for Japanese Studies (DIJ) in Tokyo. Karib holds an M.A. in Southeast Asian Studies from Universität Passau, as well as an M.A. and Ph.D. in Sociology from Binghamton University. Beyond academia, he is also the vocalist of the underground hardcore punk band Cryptical Death

Fathun Karib.jpeg

(Men)Citra Niskala 

 

Pandangan Kuratorial

(Men)Citra Niskala / Unseen (the) Map

Dunia tengah merana dalam kepedihan. Kita menyaksikan — dan mungkin turut merasakan — gejalanya dalam gesekan geopolitik di Indonesia, kawasan Asia Tenggara, hingga ke belahan dunia yang lain. Untuk menyebut sedikit dari daftar panjang wabah yang menjangkit: perampasan ruang hidup, baik yang terjadi di banyak daerah di Indonesia hingga genosida di Palestina, kekerasan atas perempuan dan kelompok rentan lainnya, kriminalisasi warga, kerusakan lingkungan dan ancaman kepunahan, kebangkitan neo-kolonialisme, hingga bayang-bayang Perang Dunia III yang semakin nyata.

 

Bahwa wabah ini telah menjelma satu sistem yang dibiarkan menjadi kewajaran, bahkan lebih jauh, sebagai informasi yang mengendap jadi pengetahuan. Seolah, lanskap yang boleh kita tatap hanyalah yang beku oleh pragmatisme dan otoritarianisme. Kita kehilangan hak untuk menata masa depan, bahkan untuk membayangkannya saja menjadi kemewahan yang terasa egois. Demikianlah kegelisahan ini makin pekat dirasakan dalam kerja-kerja kesenian, khususnya teater, yang betapapun gigih para pelaku di dalamnya, ada jarak yang makin dalam ditorehkan antara kesenian dan masyarakatnya.

Kami percaya, kesenian bisa menawarkan ukuran yang lain untuk memaknai hal-hal di sekitar kita tanpa segera terjerat pada penyeragaman selera, hasrat, daya dalam kuasa algoritma yang menempatkan kita pada kotak-kotak identitas yang sempit. Maka gagasan Bumantara yang diajukan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) lebih dari lima puluh tahun lalu menjadi relevan tak hanya sebagai lensa platform-making kesenian dalam Djakarta International Theater Platform (DITP), tetapi juga untuk membongkar modus kerja seni dalam relasinya dengan realitas hari ini.

Upaya membaca ini tidak meletakkan pemikiran STA sebagai artefak sejarah yang beku atau sekadar jadi alat identifikasi kawasan. Gagasannya adalah sebuah landasan yang memantik sebuah proses kemenjadian yang terus berlangsung: sebuah proses palimpsestik. Membentuk imajinasi Bumantara di abad 20 dan kesadaran dunia baru hari ini di abad 21. Kuratorial Djakarta International Theater Platform tahun ini merespons gagasan STA yang belum usai dengan menawarkan pokok pikiran “Mencitra Niskala / Unseen (the) Map” melalui pendekatan “Antara sebagai Metode”.

Di sana ada celah untuk keluar dari pemetaan identitas warisan kolonial yang terus menghantui serta menantang kita untuk tidak sepenuhnya tunduk pada garis kemajuan tunggal yang ditentukan oleh sains dan data semata. Hari ini, ia menuntut perangkat baru; sebuah strategi untuk menawar peta lama dengan kesadaran bahwa kita tidak pernah benar-benar seimbang dalam relasi antara negara, sains, dan teknologi.

Istilah (Men)citra Niskala / Unseen (the) Map — sebuah permainan kata — merujuk pada dua hal sekaligus. Pertama, sebagai kata kerja, Mencitra Niskala/Unseen The Map, ia menunjuk pada upaya untuk menangguhkan cara pandang kartografis yang sudah mapan dengan tidak serta-merta mengidentifikasi, mengkategorikan, atau menetapkan makna. Kedua, sebagai kata benda, Citra Niskala/Unseen Map, ia merujuk pada peta yang tidak terlihat, luput disadari, tetapi sebenarnya merekam memori ketubuhan dalam banyak perlintasan.

Jika peta konvensional dan logika algoritma cenderung mereduksi keragaman menjadi unifikasi yang prematur, posisi “Antara” menawarkan jarak pandang dalam mengerjakan superimposisi ini. “Antara” dipahami sebagai kerangka untuk membaca kewilayahan dan pengalaman tidak sebagai entitas yang stabil, tetapi sebagai hasil relasi yang terus berlangsung melampaui posisi pasif di tengah dua kutub — seperti Barat dan Timur atau Tradisi dan Modernitas. Bergerak dari edisi lalu, kewilayahan dalam posisi “Antara” memungkinkan kita melihat kelompok lain, daerah yang lain, dalam posisi geografis ke-antara-an, di luar dari kawasan Asia Tenggara. Memosisikan DITP dalam ke-antara-an adalah menyadari platform sebagai sebuah interval aktif, intermediasi, dan ruang yang terus bergerak. Metode ini memungkinkan kita menyerap, mengolah, dan mentransformasikan unsur-unsur dari berbagai entitas yang melingkupinya tanpa terjebak pada salah satu ujung ekstrem.

Dalam kerangka inilah, ekosistem teater — dengan segenap pengetahuan, pengalaman, dan potensinya — didudukkan sebagai kartograf baru. Ia tak lagi sekadar objek yang didisiplinkan oleh teknologi atau pasar, melainkan situs pengetahuan yang mampu menerjemahkan waktu dan ruang secara berbeda dari simulasi akal. Melalui teater, upaya untuk mencitra niskala muncul sebagai lapisan-lapisan keberadaan: mulai dari tubuh internal yang menjembatani ide dan rasa, hingga tubuh material yang berelasi dengan alam dan artefak. Teater dalam penghayatan kuratorial DITP tidak berdiri hanya sebagai relasi pencipta dan materialnya; ia adalah sebuah simpul dalam jaringan kosmologis yang lebih luas. Dengan turut membayangkan posisi teater sebagai salah satu titik koordinat di antara entitas-entitas lain, membawa kita pada bentuk pengetahuan yang tidak hanya berpusat pada kedaulatan manusia, tetapi juga pada relasi interdependensi dalam kosmologinya. Ia menangkap dan memahami bahwa wilayah bukan hanya dibentuk oleh batas administratif, tapi senantiasa berpaut dengan sirkulasi energi, asimilasi bentuk, dan migrasi. Kami tengah menempatkan tubuh teater sebagai interface antara yang sekala (terukur) dan niskala (metafisik), sebagai penghuni yang sadar, yang bergerak di antara berbagai spektrum kehidupan dan cara meng-ada yang lain.

 

Upaya mendudukkan kembali posisi dan kedaulatan tubuh dalam pendekatan “Antara” ini bukan sekadar pelarian estetis, tetapi justru memperlihatkan bahwa kesenian tak pernah menjadi ruang netral yang kedap. Ia selalu bertaut dan tak henti merespons kegentingan realitas sosial-politik kita — secara global — yang tengah nanar menatap masa depannya; wabah neo-kolonialisme, komodifikasi ruang hidup, industri ekspansif, hingga pemaksaan batas teritorial yang menghancurkan kekerabatan antarspesies.

Maka, setiap karya, diskusi, dan pertemuan dalam platform ini tidak hanya hadir sebagai tontonan saja, refleksi mikro dari kehidupan, komentar sosial yang berdiri di pinggir, atau representasi dari identitas kawasan, melainkan sebagai laboratorium “pengolahan” (cultivating) yang tangguh melawan. Dalam kerangka ini, kami mengakui bahwa setiap pemetaan selalu bersifat parsial dan terletak dalam kondisi historis tertentu. Dan justru melalui kesadaran akan keterbatasan inilah, kuratorial ini melihat kemungkinan bagi seni pertunjukan untuk berfungsi sebagai pelebaran produksi pengetahuan — bukan dengan menggantikan peta yang ada, tetapi dengan memperlihatkan bagaimana peta itu bekerja, dan bagaimana ia dapat dibaca secara berbeda melalui setiap bentuk, gagasan, dan pertautan.

Alih-alih berupaya menjadikan seni sebagai jawaban, kuratorial ini tengah mengajukan pertanyaan dalam upaya palimpsestik pemetaan kawasan, yaitu: Bagaimana mediasi dipertunjukkan? Apa relasi yang terbentuk di antara penonton-penyaji? Ketakpastian ini mendorong pertemuan kita melalui DITP 2026 untuk melampaui fungsi utilitarian seni dengan membayangkan cakrawala baru yang mungkin luput dari tatapan mata yang terlanjur hegemonik, membuka aliran imajinasi yang tersendat, menawarkan pengalaman ketubuhan yang lain untuk mengizinkan kita menyusun kembali peta-peta yang tak terlihat itu menjadi sebuah lanskap baru, terbebas dari wabah yang tengah menjangkit.

MEDIA PARTNER:

MEDPAR.png

HOTEL PARTNER:

Logo PRS_Hijau.png

MITRA PELAKSANA:

Logo Gema Citra Nusantara.png
bottom of page