![[DITP] Logo-01.png](https://static.wixstatic.com/media/841b6c_35b587aec7484b7cb57d775b50960226~mv2.png/v1/fill/w_152,h_56,al_c,q_85,usm_0.66_1.00_0.01,enc_avif,quality_auto/%5BDITP%5D%20Logo-01.png)
%20Once%20Upon%20a%20Unicorn_photos%20courtesy%20of%20C-LAB.jpg)
ONCE UPON A UNICORN
Thursday, 6 August 2026
15.30 -16.30
Friday, 7 August 2026
14.00 - 15.00
Studio Teguh Karya
This presentation supported by National Culture and Arts Foundation (NCAF)
HER Lab Space (Taiwan)
Rating 17+
George Maxwell, seorang pejabat kolonial Inggris sekaligus naturalis, pernah menulis tentang perjalanan seekor badak bercula satu Jawa yang dianggap keramat dalam catatan perjalanannya In Malay Forests (1911). Badak yang disebut "Kramat" itu dikisahkan mengembara di hutan tropis, menempuh perjalanan dari Jawa ke Semenanjung Malaya sejak lama. Pada masa itu, Jawa—yang kini merupakan bagian dari Indonesia—berada di bawah pemerintahan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie atau Perusahaan Hindia Timur Belanda).
Menariknya, Kapten Ripon, seorang tentara bayaran VOC pada abad ke-17, mencatat dalam buku hariannya tentang penampakan seekor "unicorn" di sebuah gunung di Taiwan. Kemudian, pada awal abad ke-20, Tokugawa Yoshichika, keturunan keluarga Tokugawa di Jepang, menulis kepada Sultan Ibrahim dari Johor mengenai satwa-satwa yang diburunya selama sebuah perjalanan.
Once Upon a Unicorn berupaya membuka imajinasi dialektis tentang lautan, pengukuran bunyi, séance citra, dan struktur kekuasaan, dengan merajut ruang dan waktu melalui kisah-kisah rakyat tentang "unicorn" dan pelayaran di lautan. Pertunjukan ini memadukan pertukaran bahasa dengan kesalahpahaman dan penafsiran atas bunyi dan citra, menghadirkan perjalanan citra yang dapat bergerak secara bolak-balik, sekaligus terlihat dan tak terlihat, terdengar dan tak terdengar. Seperti Seribu Satu Malam, Once Upon a Unicorn adalah kisah dari masa yang sangat lampau, namun terus memberi dampak pada berbagai kehidupan hingga hari ini.
George Maxwell, a British official and natural scientist, once wrote about the journey of a mystical unicorn (Kramat), a one horn Javanese rhinoceros in his 1911 travelogue “In Malay Forests”. The “Kramat” wandered in the tropical forest, traveled from Java a long time ago to the Malay Peninsula. Java, a part of Indonesia, was once under the governance of the VOC (the Dutch East India Company).
Interestingly, the 17th-century VOC mercenary Captain Ripon mentioned a “unicorn” sighting on a mountain in Taiwan in his diary. Later, in the early 20th century, Tokugawa Yoshichika, a descendant of Japan’s Tokugawa family, wrote about the animals hunted during a trip in a letter to Sultan Ibrahim of Johor.
Once Upon a Unicorn attempts to unlock a dialectical imagination of the ocean, sound measurement, image seances, and power structures, interweaving time and space through folk stories of the “unicorn” and ocean voyages. This performance integrates language exchanges with the misunderstanding and interpretation of sound and image, leading to a journey of reversible image movement that is simultaneously visible, invisible, audible, and inaudible. Much like The Arabian Nights, Once Upon a Unicorn is a tale from a long, long time ago, yet it continues to impact multiple lives today.
%20Once%20Upon%20a%20Unicorn_photos%20courtesy%20of%20Taichung%20Art%20Museum.jpg)